3 Sekuritas Tambahan Saham SIAP Terkena Teguran Tertulis

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali  memberikan peringatan tertulis kepada tiga perusahaan sekuritas yang sempat diperiksa terkait dugaan kasus perdagangan semu saham PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP). Tiga broker itu adalah PT Sucorinvest Central Gani, PT Trust Securities, dan PT Yuanta Securities Indonesia.

BEI menilai, tiga perusahaan sekuritas itu tidak menjalankan prinsip mengenal nasabah dan manajemen risiko yang memadai atas transaksi efek. Sucorinvest, Trust Securities, dan Yuanta Securities adalah tiga dari 10 sekuritas yang diperiksa oleh BEI.

Sebelumnya, BEI sempat menjatuhkan sanksi penghentian sementara (suspensi) aktivitas broker tiga perusahaan efek terkait skandal saham Sekawan. Tiga perusahaan itu adalah PT Danareksa Sekuritas, PT Reliance Securities Tbk, dan PT Millenium Danatama Sekuritas.

Tiga broker itu terindikasi kuat melakukan kelalaian dalam transaksi saham Sekawan. Namun, sehari setelahnya, BEI mencabut suspensi tersebut.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan, pemberian peringatan tertulis kepada sejumlah broker memperhatikan tata kelola yang baik agar tidak terlibat kembali dengan kasus seperti ini. “Semua diberikan peringatan,” ujar Tito .

Sebelumnya, BEI bakal menyerahkan laporan terkait dugaan perdagangan semu saham Sekawan kepada OJK pekan ini. Dugaan mengerucut kepada 2-3 pemegang saham pengendali Sekawan.

Direktur Transaksi dan Kepatuhan Anggota BEI Hamdi Hassyarbaini mengatakan, pihaknya masih menyusun laporan tersebut. OJK nantinya akan menindaklanjuti kasus tersebut termasuk sanksi bagi pihak-pihak yang terlibat.

“Kami sudah tidak menambah broker yang diperiksa, cukup 10. Karena secara garis besar sudah ketahuan siapa yang terlibat. Dari penelusuran kami, ada 2-3 pemegang saham pengendali yang diduga terlibat,” ungkap Hamdi.

Saat ini, pemegang saham Sekawan terdiri atas Fundamental Resources Pte Ltd (32,33%), PT Evio Securities (7,99%), PT Asabri (6,99%), UBS AG Singapura (6,63%), dan publik 46,06%.

Sebelumnya, BEI melakukan investigasi terhadap skandal saham Sekawan hingga ke bukti rekaman transaksi antar para sekuritas dan nasabah. BEI mencurigai adanya dalang di balik kasus tersebut.

Hamdi mengakui, kasus saham Sekawan ini membuat BEI menelusuri transaksi saham perseroan, sejak emiten batubara tersebut melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue pada Juni 2014.

Ketika itu, Sekawan menerbitkan 23,4 miliar saham baru dengan harga Rp 200 per saham. Perseroan memperoleh dana hasil rights issue senilai Rp 4,68 triliun. Adapun PT Danareksa Sekuritas bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer).

Sekawan menggunakan 99,84% dana hasil rights issue untuk mengakusisi perusahaan yang memiliki tambang batubara di Kalimantan Timur, RITS Ventures Ltd. RITS adalah perusahan investasi yang memiliki PT Wana Bara Prima Coal, induk PT Indo Wana Bara Mining Coal.

Tahun lalu, Rennier Abdul Rahman Latief, presiden komisaris Sekawan Intipratama pernah menjelaskan, perseroan menyiapkan dana sebesar 170-180 juta euro untuk belanja modal 2015.

(Visited 1,721 times, 1 visits today)

redaksi

www.beritasaham24.com