Adhi Karya Siap Raup Untung Proyek LRT

Ekspansi bisnis kereta api ringan yang digarap PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) akan berjalan mulus. Hal ini seiring dengan restu pemerintah dan dukungan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk proyek yang dinilai prestisius tersebut. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin,

Presiden Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan (Light Rail Transit/LRT) terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi, pada 2 September 2015. Dan hari ini 9 September Presiden Jokowi telah melakukan pemancangan pertama proyek LRT.

Perpres tersebut menyebutkan, pemerintah menugaskan kepada PT Adhi Karya (Persero) Tbk untuk membangun prasarana LRT terintegrasi, yang meliputi: jalur, termasuk konstruksi jalur layang, stasiun, fasilitas operasi. Dalam pelaksanaan pembangunan prasarana ADHI dapat bekerja sama dengan badan usaha lainnya. Tahapan pelaksanaan pembangunan parasarana harus dituangkan dalam perjanjian antara Kementerian Perhubungan dengan ADHI.

Perpres ini juga menugaskan ADHI menyusun dokumen teknis dan dokumen anggaran biaya rencana pembangunan prasarana LRT terintegrasi, dengan mengacu pada Harga Perkiraan Sendiri dan spesifikasi teknis yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan. Dokumen teknis dan dokumen anggaran biaya rencana pembangunan LRT sebagaimana dimaksud disampaikan kepada Menteri Perhubungan dalam waktu paling lama 3 bulan untuk mendapat persetujuan dari Menteri Perhubungan.

Sebagai informasi, perseroan merevisi target laba bersih, kontrak baru, pendapatan, hingga belanja modal sepanjang tahun ini, meningkat dibandingkan dengan target yang dipatok sejak akhir tahun lalu. Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, Ki Syahgolang Permata pernah bilang, dari evaluasi triwulan pertama, manajemen emiten berkode saham ADHI tersebut merevisi target kinerja sepanjang tahun ini. Manajemen meningkatkan target perolehan kontrak baru tahun ini sebesar 23% menjadi Rp18,7 triliun dari sebelumnya Rp15,2 triliun.

Peningkatan target kontrak baru tersebut diikuti oleh pendapatan perseroan yang dibidik naik menjadi Rp13,8 triliun dari Rp13,2 triliun. Perseroan juga menaikkan proyeksi laba bersih sepanjang tahun ini sebesar 14,7% menjadi Rp505 miliar dari target awal Rp440 miliar. Anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) bahkan ditingkatkan 45,6% menjadi Rp1,2 triliun dari alokasi awal tahun Rp824,7 miliar. Dana belanja modal berasal dari kas internal, sisa dana obligasi, dan perolehan rights issue dengan total Rp2,74 triliun. “Perubahan target setelah mengevaluasi untuk menyambut pasar yang cenderung positif. Sektor jasa konstruksi diperkirakan masih mendominasi perolehan kontrak baru,” ungkapnya.

Hingga April 2015, realisasi kontrak baru perseroan Rp3,3 triliun, masih didominasi oleh swasta sebesar 56%. Kemudian diikuti oleh proyek APBN/APBD sebesar 30% dan BUMN sebesar 14%

(Visited 55 times, 1 visits today)

redaksi

www.beritasaham24.com