Alasan Delisting Saham INVS 2017

INVS alias PT Inovisi Infracom Tbk. segera dihapus dari Bursa Efek Indonesia. Tepat pada tanggal 23 Oktober 2017, BEI akan menghapus paksa saham emiten berkode INVS dari papan perdagangan.

Kisah Inovisi Infracom di pasar saham berawal dari aksi penerbitan 320 juta saham melalui mekanisme penawaran umum perdana. Aksi go public perusahaan subsektor telekomunikasi ini ditangani oleh PT Investindo Nusantara Sekuritas dan PT Reliance Sekuritas selaku underwriter.

Harga saham baru INVS ditetapkan sebesar Rp125 per saham sehingga perseroan meraup dana initial public offering (IPO) sebesar Rp40 miliar. Setelah IPO, saham INVS mulai diperdagangkan di BEI sejak 3 Juli 2009.

Dalam 8 tahun terakhir, saham INVS menyentuh harga tertinggi di level Rp8.650 per saham pada 29 Juli 2011. Lantas, INVS tersungkur ke kisaran Rp200 per saham sejak kuartal IV/2013 dan membeku di level Rp171 per saham sejak 13 Februari 2015 lantaran disuspensi Otoritas Bursa.

BEI cukup sering menghentikan sementara perdagangan saham INVS. Suspensi pertama terjadi pada 30 Desember 2009 karena pergerakan harga yang tidak wajar.

Tiga tahun berselang, saham waran INVS disuspensi pada 1 Juli 2013. Totalnya, INVS 13 kali disuspensi BEI dengan penyebab utama terlambat memenuhi kewajiban sebagai emiten, seperti penyampaian laporan keuangan dan membayar denda.

Bukan tanpa alasan INVS terlambat menyampaikan laporan keuangan. Kinerja keuangan perseroan ternyata tidak berjalan mulus.

Berdasarkan laporan keuangan 2014 yang disampaikan perseroan pada 31 Agustus 2017, pendapatan usaha INVS anjlok dari Rp1,66 triliun pada 2013 menjadi hanya Rp31,55 miliar. Pendapatan itu berasal dari CDE senilai Rp29,71 miliar, sewa gedung Rp1,51 miliar, dan jasa penempatan tenaga kerja Rp329,91 juta.

Di sisi lain, rugi tahun berjalan yang dikantongi INVS membengkak Rp1,79 triliun. Padahal INVS masih meraih laba Rp328,27 miliar pada 2013.

Pemegang saham mayoritas INVS pun terlilit kasus pengemplangan pajak. PT Green Pine tidak menyetor kewajiban pajak penghasilan (PPh) atas dividen yang diterima sebesar Rp32,13 miliar pada 2011 dan abai membayar PPh saham bonus senilai Rp447,11 miliar yang diterima pada 2013.

Di tengah persoalan yang menyelimuti INVS dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini mulai memasuki babak baru setelah manajemen baru terpilih pada 7 Maret 2017. Target ambisius untuk menyelesaikan segala permasalahan pun terlontar dari manajemen baru.

Setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) itu, Direktur Independen INVS Pantur Silaban mengungkapkan, permasalahan dalam laporan keuangan disebabkan lambatnya penyelesaian masalah oleh pengurus lama. Jajaran direksi dan komisaris saat itu juga terpecah sehingga tidak kunjung bisa melaksanakan RUPSLB.

“Target kami laporan keuangan yang diaudit rampung maksimal September 2017 atau 6 bulan ke depan. Setelah itu mulai jalan lagi usaha,” tuturnya awal Maret lalu.

Direktur Inovisi Dimas Anugrah Argo Atmaja menyampaikan, sebetulnya pembenahan laporan keuangan sudah dilakukan sejak lama, tetapi tidak kunjung selesai.

Oleh karena itu, target utama dan paling realistis dari manajemen baru ialah menyelesaikan laporan dalam periode 3 bulan hingga 6 bulan ke depan untuk membuka suspensi saham.

Setelah saham INVS dibekukan, operasional perseroan memang berhenti dan pemasukan hanya berasal dari anak usaha. Bahkan pada tahun lalu, karyawan INVS hanya sekadar ke kantor tetapi sama sekali tidak beroperasi.

Setelah suspensi saham dibuka, manajemen akan melakukan rapat terkait operasi kerja dan kebutuhan dana. Perusahaan juga bisa mendapatkan dana dari treasury stockataupun aksi korporasi seperti rights issue.

Pembukaan suspensi saham INVS, lanjut Dimas, menjadi titik balik perseroan untuk kembali berekspansi. Adanya kegiatan operasional akan kembali menarik minat dari investor dan menambah kas perusahaan.

Apa daya, harapan manajemen INVS yang baru harus sirna. BEI melayangkan surat No. Peng-DEL-00002/BEI.PP2/09-2017 tentang force delisting saham INVS dari papan pengembangan BEI yang berlaku efektif pada 23 Oktober 2017.

Dalam surat tersebut dipaparkan dua kondisi yang membuat perseroan akhirnya didepak dari BEI. Pertama, kelangsungan usaha INVS berada dalam kondisi negatif secara finansial dan hukum. Kedua, saham INVS tidak diperdagangkan selama lebih dari 24 bulan terakhir.

Berkaitan dengan force delisting tersebut, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat mengungkapkan emiten yang terkena forced delisting periode suspensinya sudah melampaui batas waktu.

“Sudah kami ingatkan berkali-kali untuk disclose kewajiban. Misalnya, laporan keuangan. Tapi tidak disampaikan. Jadi investor kan tidak tahu,” ujarnya melalui sambungan telepon, Senin (25/9).

Samsul mengungkapkan ketika melakukan kunjungan, emiten tersebut pun sudah tidak ada kegiatan bisnis.

“Mau diapakan lagi?” jelasnya.

Saat ini, selain INVS, ada 10 emiten yang sedang dalam pengawasan.

“Hanya saja mereka (10 emiten) sebagian masih menyampaikan laporan keuangan, kewajiban lain walaupun kondisi suspensi,” ujarnya.

 

Penghapusan saham INVS ini dipastikan akan merugikan sejumlah pemegang sahamnya. Banyak pihak mempertanyakan fungsi pengawasan dari OJK dan BEI sehingga manajemen perusahaan terkesan lepas tangan permasalahan yang melingkupinya.

 

(Visited 50 times, 1 visits today)

redaksi

www.beritasaham24.com