Analisa PGAS 4 September 2015

Analisa Macquarie

Dalam laporan yang telah disampaikan kepada nasabah menyoroti investasi PGAS di investasi hulu yang mendorong kenaikan utang menjadi sekitar US$1,4 miliar per akhir Juni 2015 dari sekitar US$1 miliar per akhir Maret 2015.

Sementara aset yang dibeli PGAS seperti blok Pangkah lebih dari US$1 miliar dinilai mahal menurut perhitungan Macquarie seperti dikutip dalam laporannya. Selain itu juga banyak investasi pada hulu gas tetapi tidak terintegrasi langsung dengan jaringan PGAS yang sebelumnya.

Sebagai distributor, PGAS hanya memperoleh selisih antara harga gas dari produsen dengan konsumen. Seiring dengan upaya PGAS untuk menjaga supply ke konsumen, PGAS melalui anak usaha PT Saka Energi Indonesia mulai berinvestasi hulu seperti membeli 75 persen blok Pangkah dan 36 persen blok Shale Gas Fasken di Texas.

Macquarie melihat investasi ini turut menekan arus kas bebas (free cash flow) PGAS, yang dalam perhitungan Macquarie tercatat negatif US$485 juta sepanjang semester pertama 2015.

Belum lagi tekanan pelemahan ekonomi yang mendorong penurunan permintaan industri terhadap gas. Selama paruh pertama tahun ini, PGAS membukukan pendapatan neto US$1,41 miliar, turun dibandingkan US$1,62 miliar pada periode sama 2014. Penurunan itu seiring dengan berkurangnya volume penjualan distribusi gas 8,4 persen menjadi 784 MMSCFD.

Laba bersih perseroan selama semester pertama 2015 juga merosot menjadi US$227,34 juta dibandingkan US$370,05 juta pada periode sama tahun lalu. Kinerja itu juga membawa laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi US$0,01 per saham dibandingkan sebelumnya US$0,02.

“Oleh sebab itu, meski PGAS sudah mengalami penurunan hingga sekarang, tingginya risiko investasi hulu membuat kami yakin saham ini masih tidak menarik. Masih Underperform,” tulis riset itu.

Macquarie pun menurunkan target harga saham PGAS dari Rp3.000 menjadi hanya Rp2.500.

Analisa JP Morgan

Sebaliknya, riset JP Morgan justru melihat potensi kenaikan harga saham PGAS yang sudah tertekan dalam. Dalam riset yang disampaikan kepada nasabah, rencana pemerintah membuat agregator gas di akhir 2015 akan membuat distribusi gas menjadi lebih efisien.

Selain itu, JP Morgan juga melihat ada potensi baik dari program pembangkit listrik 35.000 Megawatt pada 2018. Tahap pertama dari program itu adalah 10.000 MW selesai pada 2018. “Kami memperkirakan potensi permintaan 360 MMSCFD dari pembangkit listrik gas pada 2018, atau sekitar 50 persen dari volume PGAS saat ini,” tulis tim analis JP Morgan.

Meskipun demikian, JP Morgan juga menurunkan target harga PGAS menjadi Rp4.000 per saham, dibandingkan Rp5.900 pada riset sebelumnya. Hal itu didorong penurunan volume distribusi 19 persen pada tahun ini. Selain itu, risiko pendorong saham PGAS yakni belum adanya tanda kemajuan reformasi energi di Indonesia dan penundaan lelang pembangkit listrik

(Visited 204 times, 1 visits today)

redaksi

www.beritasaham24.com