Kompetisi Blue Bird , Taxi , Aplikasi Layanan Taksi

Peluncuran aplikasi taksi  layanan seperti GrabTaxi, Go-Jek dan Uber di pasar Indonesia telah berdampak pada kinerja perusahaan taksi konvensional. Dimana dua operator terbesar di negara ini menunjukkan hasil yang bertentangan selama 9 bulan berjalan.

Sementara Blue Bird Group BIRD mengalamai peningkatan langsung dalam pertumbuhan laba dan pendapatan, sedangkan operator taksi emiten PT Ekspres Transindo Utama Tbk (TAXI) mengalami penurunan keuntungan, yang disebabkan  biaya yang lebih tinggi serta meningkatnya persaingan dari layanan berbasis aplikasi.

Menariknya,  TAXI  yang memiliki armada lebih dari 11.000 kendaraan, mengatakan akan meluncurkan aplikasi smartphone, mirip dengan aplikasi transportasi lainnya, untuk mengatasi meningkatnya persaingan.

Direktur Keuangan mengungkapkan David Santoso kepada wartawan, Selasa lalu, perusahaan akan meluncurkan versi update di awal tahun depan.

Perusahaan akan menghabiskan setidaknya Rp 300 miliar untuk memperluas armada dan sampai infrastruktur IT-nya.

Dengan 11.000 kendaraan di armada, kata dia, sistem TI upgrade diharapkan dapat meningkatkan daya saing perusahaan dalam menarik penumpang di atas kemitraan yang ada dengan GrabTaxi, katanya.

Baru-baru ini, sejumlah operator taksi telah memprotes pengenalan layanan transportasi berbasis aplikasi mobile di seluruh kota, karena memiliki keuntungan yang tidak fair dibanding  perusahaan taksi konvensional.

Perusahaan taksi terbesar di negara itu Blue Bird Group direktur operasional Adrianto Djokosoetono kepada wartawan pekan lalu, bahwa kehadiran berbasis aplikasi perjalanan layanan seperti GrabTaxi, Uber dan Go-Jek belum mempengaruhi kinerja perusahaan, yang dibuktikan dengan saat ini angka pertumbuhan dua digit.

Dia menambahkan, bahwa jumlah penumpang juga meningkat, seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan persen 16,27 per pendapatan menjadi Rp 4 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini, dibandingkan dengan Rp 3,44 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih perseroan naik 13,5 persen menjadi Rp 881.270.000.000 ($ 63.900.000) pada periode sembilan bulan dari Rp 776 miliar pada tahun lalu.

Blue Bird mengharapkan pencapaian sekitar Rp 55.600.000.000.00 pendapatan pada 2015. Perusahaan ini telah merealisasi sebagian dari rencana belanja modal dengan membeli 3.000 hingga 4.000 kendaraan sepanjang tahun ini.

Bluebird juga berencana menambah sekitar 500 sampai 1.000 kendaraan baru untuk sisa tahun ini, kata Adrianto, menambah armada yang ada perusahaan dari 32.500 kendaraan (seperti dalam 2014).

Blue Bird, yang memiliki pangsa pasar taksi tertinggi 43,6 persen, telah mendapatkan ijin dari pihak berwenang untuk meningkatkan armadanya hingga 6.000 tahun ini.

Sementara itu, TAXI, operator taksi terbesar kedua  telah melaporkan penurunan hampir 90 persen laba bersih dalam sembilan bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, karena kombinasi dari beban bunga yang lebih tinggi dan pemeliharaan kendaraan biaya serta meningkatnya persaingan.

Pendapatan naik 12,69% menjadi Rp 721.400.000.000. Namun, laba bersih anjlok karena biaya yang lebih tinggi, termasuk beban bunga yang lebih tinggi dan biaya perawatan kendaraan. Pendapatan terbesar merupakan kontribusi dari dua merek taksi yang Express dan Elang taksi.

Taksi Express beroperasi 11.240 unit taksi reguler seperti pada akhir September, menyediakan layanan di 30 kota besar di seluruh Indonesia, termasuk wilayah Jabodetabek, Surabaya, Semarang, Jawa Tengah, Medan, Sumatera Utara, Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan Padang di West Sumatera.

(Visited 1,125 times, 1 visits today)

redaksi

www.beritasaham24.com