Seputar bursa

I. Perdagangan Pra-Pembukaan

Perdagangan Pra-Pembukaan adalah waktu perdagangan dimana para pemodal, baik investor maupun trader, bisa memasukkan order beli dan order jual melalui online trading yang mereka miliki untuk bisa diikutsertakan pada sesi perdagangan berikutnya. Kapan seorang pemodal bisa memasukkan order ke dalam online trading yang dimilikinya ini, sangat bervariasi tergantung kemampuan dari online trading yang dimiliki oleh setiap perusahaan sekuritas. Beberapa sekuritas memang mengijinkan nasabahnya untuk memasukkan order semenjak sore hari sebelum hari perdagangan, segera setelah perdagangan di hari itu selesai dilakukan. Misalnya: order untuk Selasa pagi.. bisa dimasukkan pada hari Senin sore setelah jam 16.15 … order untuk Senin pagi bisa dimasukkan pada hari Jumat sores setelah jam 16.15 … dan seterusnya. Akan tetapi.. ada juga sekuritas yang membatasi bahwa order untuk hari itu.. hanya bisa dimasukkan pagi hari setelah jam tertentu.

Semua order yang dimasukkan oleh nasabah, akan masuk ke server online trading dari perusahaan sekuritas. Order ini, kemudian pada jam 8.45 pagi .. ‘ditembakkan’ atau ‘dikirim’ ke server BEI dari server perusahaan sekuritas.

Sebagian dari saham tersebut, akan mengikuti proses pembentukan harga pada ‘Opening Session’ … sisanya akan langsung dikirimkan pada awal perdagangan di pasar reguler.

II. Perdagangan Pembukaan (Opening Session)

Opening session adalah proses pembentukan harga pembukaan pada sebagian saham, yang dilakukan sebelum jam perdagangan reguler dibuka.

Opening Session ini dilakukan pada jam 8.55 atau 5 menit sebelum perdagangan reguler dilakukan.

Tidak semua saham turut serta dalam proses Opening Session ini. Daftar dari saham-saham yang mengikuti opening session ini, bisa kita lihat pada website IDX.

Harga pembukaan ini dibentuk berdasarkan harga terbaik yang bisa menimbulkan transaksi terbanyak dari order yang dikirimkan oleh perusahaan sekuritas.

Pembentukan harga ini untuk menentukan harga pembukaan dari saham-saham tersebut, disamping juga untuk menentukan posisi pembukaan dari IHSG.

III. Perdagangan Sesi Utama : Perdagangan pada Pasar Reguler

Perdagangan pada pasar reguler adalah apa yang sering kita sebut sebagai waktu normal dalam melakukan perdagangan. Pada perdagangan di waktu ini perdagangan dilakukan secara countinuos auction dimana pembeli dan penjual melakukan transaksi dalam prinsip first come – first served. Waktu dilakukannya perdagangan adalah sebagai berikut:

Hari Senin – Kamis
Sesi Pertama : 9.00 – 12.00
Sesi Kedua : 13.30 – 15.49.59
Hari Jumat
Sesi Pertama : 9.00 – 11.30
Sesi Kedua : 14.00 – 15.49.59
IV. Perdagangan Pra-Penutupan (Pre-Closing Session)

Pada jam 15.49.59 … perdagangan reguler di Bursa Efek Indonesia dihentikan untuk memasuki masa Pra – Penutupan (Pre Closing Session). Pada pre-closing session ini, perdagangan terhenti, tapi pemodal tetap bisa memasukkan order melalui online trading untuk mengikuti pembentukan harga penutupan. Harga penutupan akan ditetapkan berdasarkan harga yang mengakomodasi jumlah transaksi terbanyak. Proses ini sama dengan yang dilakukan ketika sesi pembukaan, yang dilakukan untuk menentukan harga pembukaan. Bedanya, pada closing pre-closing session ini dilakukan pada semua saham pada saat yang bersamaan.

V. Perdagangan Penutupan (Closing Session)

Sesi penutupan adalah saat dimana ditentukan atau terjadi pembentukan atas harga penutupan untuk perdagangan hari itu. Harga penutupan ini ditentukan berdasarkan seluruh order terbuka (order yang belum menjadi transaksi) yang masuk, baik selama perdagangan reguler, maupun ketika saat perdagangan Pra-Penutupan. Harga dibentuk berdasarkah harga yang memiliki volume transaksi terbanyak berdasarkan order terbuka yang masuk. Harga penutupan ini ditentukan untuk melakukan penghitungan pada posisi penutupan IHSG.

Pada sesi ini, ditentukan harga penutupan dari setiap saham dan juga IHSG.

IV. Perdagangan Pasca Sesi Penutupan

Harga penutupan terbentuk ketika Sesi Penutupan. Akan tetapi, transaksi perdagangan saham tidak berhenti disitu. Bursa Efek Indonesia masih memberikan kesempatan bagi pelaku pasar untuk melakukan transaksi pada sesi Perdagangan Pasca Penutupan. Sesi perdagangan ini berlangsung 10 menit, mulai pukul 16.05 hingga 16.15. Pada sesi perdagangan ini, pelaku pasar hanya bisa memasukkan order (baik order beli maupun order jual) hanya pada satu harga, yaitu harga penutupan.

Perlu dipahami bahwa transaksi hanya terjadi apabila terdapat order beli atau order jual pada harga yang sama. Itu sebabnya, order yang dimasukkan pada perdagangan pasca sesi penutupan ini belum tentu terjadi transaksi.

Order tidak akan menjadi transaksi apabila:

Jika kita melakukan order beli ketika posisi bid offer berada pada posisi sisa beli, atau
Jika kita melakukan order jual ketika posisi bid offer berada pada posisi sisa jual.
Transaksi hanya bisa terjadi apabila:

Jika kita melakukan order beli ketika posisi bid offer berada pada posisi sisa jual, atau
Jika kita melakukan order jual ketika posisi bid offer berada pada posisi sisa beli.

Tingkatan Trader / Investor

1. Pre-School:
Dimana-mana, di koran, di TV, di tempat kerja, di cafe… dll. Semua pada ngomongin saham dan reksadana karena profit yang jauh diatas deposito dikarenakan stock market, terutama beberapa saham tertentu yang hangat diperbincangkan. Ekonom dan analis pasar merekomendasikan untuk memilih saham dengan prospek yang luar biasa kedepannya.
Sebagai manusia yang normal dan sehat tentu saja menjadi tertarik untuk ikut-ikutan membeli saham. Mungkin lewat kenalan atau saudara ikut-ikutan main dikit, mungkin numpang account dulu. Mungkin juga profit sedikit karena pas kebetulan masih di bull market. Yang begini naik kelas, yang pas masuknya di bear market putus sekolah dan kapok masuk ke dunia saham lagi.

.
2. Kelas Junior Trader: (“greed indicator”)
Ternyata beli/jual saham cukup menguntungkan dibandingkan dengan deposito di bank. Dengan semangat tinggi maka mulai buka account sendiri di broker saham bagi yang belum punya sebelumnya. Apalagi dengan fasilitas online trading maka setiap saat pergerakan harga saham dapat dipantau setiap detiknya. Tradingnya masih mengikuti rekomendasi dari para analis dan “FA” (Feeling Analysis). Trading size masih relativ kecil. Di bull market tetap dapet cuan (profit). Perasaan jadi lebih confidence dengan gaya trading ala “FA” nya dan merasa sudah menjadi ahli dalam dunia saham. Pada saatnya bearish market tiba, ternyata nyangkut juga karena belinya pas di harga diujung pohon kelapa. Ada rumors dan news yang super bagus tapi harga turun terus dan portofolio dengan cepatnya merah membara. Dihitung dari modal awal yang terlihat hanya minus sekian persen. Harapan untuk market kembali membaik masih tinggi (masa sih saya salah beli?).
Di kelas ini mulailah timbul pertanyaan, “apa ada ya ilmunya mengenai saham?”
Saatnya naik kelas ke

.
3. Kelas Nyangkuter: (“fear indicator”)
Sahamnya punya banyak, ruginya bisa sampe 50% atau lebih juga mungkin. Mau Cut-Loss sdh tanggung. Dari sini punya pilihan menjadi
1. Investor “Gadungan” (yg ini dibahasnya 1-10 tahun lagi, not so urgent)
2. Kelas “Nyangkuter Optimis” kalau belum putus asa.
Mulai belajar TA (Technical Analysis), FA (Fundamental Analysis), diskusi, forum dsb.
Ikut workshop, browsing website, kenal TA-Indicators, bisa corat coret chart.
Mulai “PeDe” lagi. Mulai bisa cuan dikit. Saham-2 yang nyangkut mulai berkurang karena berani Cut-Loss. Berkeyakinan punya sistem yang “paten dan tidak bisa LOSS” dan pasti bisa menaklukkan pasar modal. Memandang remeh trader lain yang tidak percaya kepada trading systemnya. Masa depan yang cerah sudah ada didepan mata, profesi tetap hampir ditinggalkan. Kalau bikin prediksi merasa pasti betul karena menurut TA memang harus begitu. Kalau ada yang tidak percaya berani diajak taruhan apa saja. Pas market mendukung, cuan. Bikin testimony dimana mana. Tambah PeDe, Trading size tambah besar, pake full margin. Ternyata…..kena bear market lagi. Saham-2 banyak yang pada nyangkut lagi karena tidak ada istilah cut-loss dalam kamusnya. Cut-Loss berarti mengakui kalau prediksinya ternyata salah.
Masih berharap terus sahamnya bisa rebound lagi ke harga awal, karena di chart-nya begitu.
RESULT: Cuan-Loss=Loss buanyak.
Lulusan kelas ini mendapat ijasah: Nyangkuter Senior

– Yg sudah cape, masih terbuka peluang menjadi “Investor gadungan” (1-10 thn)
– Yang pake margin bisa bangkrut, drop-out sekolahnya, balik lagi menekuni bidang kerjanya.
– Yg masih ada modal dan optimis, bisa naik kelas.
Yang naik kelas ikutan ke Kelas:

.
4. Trader Junior:
Sudah mengenal Trading plan, tahu Kapan entry dan kapan exit. Juga sudah kenal apa itu Money Management tapi belum tahu bagaimana implementasinya. Trading size tambah besar dan kenal banget dengan semua software, buku dan memperdalam ilmu terus. Bisa cuan tapi masih loss juga karena belum konsisten dengan trading plan dan money management. Buy masih dipengaruhi kalau market lagi naik-naiknya, lihat running trade tidak tahan, terus beli di harga paling atas.
RESULT: masih loss tapi sangat optimis karena tahu dimana letak kesalahannya. Kalau masih ada modal bisa naik kelas, yg udah abis dipaksa drop-out -> kerja lagi ke profesi awal kalau sebelumnya sudah berhenti.

.
5. Trader Senior:
Disini sekolahnya lama dan sangat melelahkan. Yang putus asa atau abis modal masih ada alternativ jadi “investor gadungan” atau drop-out juga.
Belajar menentukan timing tepat Entry dan Exit dan tidak terpengaruh dengan emosi (tetap pasti ada sih, namanya juga manusia…) dan mulai dapat konsisten dengan trading plan dan money management. Sadar kalau market itu tidak harus sesuai arah dengan hasil analisanya. Chart hanya dipakai sebagai alat bantu untuk trading plan secara konsisten, tapi tetap jaga-jaga (emergency plan) kalau ternyata market tidak sesuai dengan TA nya. Mulai memperhatikan FA dan event-2 penting (trend global, regional market, cum devident, laporan keuangan, pengumuman macro economic spt. Inflasi, interest rate dsb.) yang mempengaruhi harga saham.
RESULT: tradingnya ada yg rugi dan ada yg cuan, tapi hasil totalnya ternyata CUAN ! atau Tidak Rugi di Market yg lagi bearish kalau Loss juga terbatas

.
6. Successful Trader
Greed dan Fear sudah bisa balance. Seperti orang naik sepeda, untuk bisa harus belajar dulu, tidak bisa hanya dengan teori atau ikutan workshop saja sudah terus bisa keenakan naik sepeda (“greed”?) tapi harus praktek juga bersama dengan jatuh bangun dan babak belurnya (kenal “fear”). Asal jangan sampai … KO saja. Kalau sudah bisa naik sepeda, semua teori tentang balancing, rem, kecepatan, gimana kalau ada bahaya/mobil, nyebrang jalan dsb., sudah menjadi otomatis dan dalam situasi bahaya bisa cepat bertindak dengan benar, sehingga bisa sampai dengan cepat dan selamat.
RESULT: tetap ada trading yg rugi dan cuan, tapi di portofolio asetnya mulai bertambah.

.
note: menjadi hebat, merasa punya sistem trading yang paling hebat dan selalu profit di segala situasi market. Padahal, keberhasilan trading sistem sangat tergantung dengan karakteristik stock market saat itu dan selalu berkembang. Sehingga sebagai trader harus juga secara terus-menerus mengembangkan kemampuan untuk membaca situasi market (bullish, bearish, side-ways) sehingga bisa menerapkan strategi yang sesuai dengan kondisi marketnya.

(Visited 1,407 times, 1 visits today)