Penjelasan manajemen SIAP terhadap Kinerja Perusahaan 2015

Wwancara dengan pihak manajemen SIAP

Soal suspensi saham bagaimana tanggapannya?
Disuspen sejak tanggal 23 Oktober Jumat ya, auto reject terus, dikategorikan UMA. Akhirnya disuspen. Disuspen ini tujuannya untuk cooling down, biasanya 1 sekuel, 1 siklus itu bisa 3 sesi, bisa 3 hari, makanya kita hari Jumat dipanggil hearing, minta klarifikasi.

Secara resmi sih kita nggak mengerti. Kita juga lagi kontak. Kita juga pasti nanti minta klarifikasi pemegang saham, data yang kita punya, kan tiap bulan kita menyampaikan mutasi, memang ada kepemilikan yang turun signifikan pemegang saham pengendali. Kita lagi minta penjelasan untuk disampaikan ke bursa,

Itu berarti apa tuh pak?
Kalau saham turun berarti dijual ya, seperti kita tahu ya bahwa sumber pendanaan kita itu dari share financing, either itu repo, placement. Itu sebenarnya sudah gede juga, tapi mungkin di bagian-bagian transaksi itu ada permasalahan, tapi saya tidak mengerti ya. Bukan masalah melanggar tapi secara bisnis nggak sesuai kreditur, kita klarifikasi dengan para pemegang saham

Kita tunggu meeting dengan pemegang saham, habis itu hearing dulu. Ini kan soal perubahan harga yang signifikan, volume perdagangan. Ini kan apakah itu berkaitan dengan auto reject setiap hari, itu kita masih belum tahu, kalau data kita kan lapor setiap bulannya, memang ada penurunan kepemilikan saham yang signifikan.

Kamis ada penjelasan dari pemegang saham entah tertulis atau apa, baru ke bursa, nanti ketemu seluruh direksi. Faktanya kita selalu top 3 ya, volume dan frekuensi, itu yang mungkin, nggak usah menebak-nebak deh.

Soal perubahan bisnis?
Kita sudah berubah, saya nggak mengerti kenapa sejak Februari ini kita belum berubah masih pabrik popok (plastik) saja.

Seharusnya kan begini, tiap tahun yang rutin, bursa itu akan menelaah performance-nya emiten, itu yang multisektor, jadi yang dominan apa. Disarankan setiap Juni, yang dominan apa, misalkan selama 3 tahun berturut-turut kita batu bara nih, kemudian tidak langsung kita RUPS, ubah AD/ART kemudian kita langsung jadi perusahaan tambang.

Tidak cukup, harus dibuktikan dengan laporan keuangan. Kita anggaran dasar sudah, SIUP sudah tapi bukti lapkeu auditan tahunan ini, harusnya Juni kemarin kan sudah masuk.

Dulu kita itu bidang usahanya printing, bikin kemasan popok. Kan ada bahannya, sekarang sudah tidak lagi, sudah divestasi. Sekarang pertambangan dan energi mulai Juni tahun lalu, itu sampai sekarang masih popok saja.

Kepemilikan saham mayoritas?
Yang pasti begini, dulu pengendalinya kan, ada namanya Graha Sakti Prima dan Graha Sakti Cemerlang, sekarang masih ada dia. Tapi setelah kita rights issue Juli tahun lalu, mereka terdilusi, mereka jadi 2% sekian, jadi kita 97%, tapi itu masalahnya dari 97% itu kita sisa berapa. Itu yang ditanya, dikemanakan begitu kan? Yang 97% awalnya Fundamental (Resources). Nah, sekarang kok sisa 30%? Nah itu yang jadi pertanyaan bursa, ada apa gerangan?

Apa ini terkait backdoor listing?
Itu rights issue. Jumlahnya 23 miliar (lembar) US$ 400 juta. Modal kita jadi 24 miliar lembar saham, harganya Rp 200, jadi Rp 4,680 triliun

Soal backdoor listing, Rennier Latief itu siapa?
Pemegang saham pengendali tidak langsung. Secara hukum tidak ada tapi itu istilah di pasar modal kan ada. Kita juga sudah sampaikan ke OJK, jadi ya kalau secara administrasi, company, itu private limited.

Jadi Reinner ini yang ambil alih lewat backdoor listing ya?
Pemahamannya gini. Istilah backdoor listing ini kan istilah nggak resmi, itu sebenarnya Penawaran Umum Terbatas (PUT). Kebetulan, perusahaan itu PUT menerbitkan saham lebih gede, karena diakuisisi, saham yang gede itu dibayarin sama yang akuisisi, jadi yang diakuisisi yang jadi pengendali baru, itu namanya backdoor listing.

Jangan cerita pribadi, karena ini Fundamental Resources, dan secara administrasi nothing to do sama Pak Reinner, bahwa pengendalinya Fundamental Resources itu Pak Reiner tapi kan secara hukum nggak.

Pak Reiner ini masih cs-nya Grup Bakrie?
Itu saya indikasi itu saya denger dari OJK, itu sudah nggak ada. Jadi gini loh, nggak tahu rumor dari mana, jadi seolah-olah skenario SIAP itu Bakrie di belakangnya. Sebenarnya kalau kita tidak mau repot, bilang saja iya, pusing-pusing lu.

Tapi kan tidak. Jadi bukan. Mereka mengkhawatirkan itu nanti di belakangnya Bakrie. Jadi Pak Reinner itu dari 2005 sudah lepas dari Grup Bakrie

Memang OJK ngomong begitu, ada kekhawatiran skenario di belakangnya, Bakrie, begitu, artinya kan berkaitan ke BUMI karena BUMI kan telah di-anu-kan secara tidak adil.

Menurut mereka, padahal duitnya sudah banyak ya, Rp 3 triliun default, sama kayak kita ini Rp 3 triliun tapi nggak bayar, habislah. Terus dia dianggap balasnya lewat Pak Reinner ini, nothing to do kali.

Kalau Pak Iwan Bogananta itu siapa?
Salah satu direksi kita, Direktur Operasi

Pak Iwan itu yang punya IUP tambang batu bara itu?
Bukan, yang punya izin Indo Wana (PT Indo Wana Bara Mining Coal), kebetulan Direktur Utamanya Pak Iwan, nah Pak Iwan itu juga Direktur Operasi di SIAP Indo Wana itu anak usaha SIAP, bisnisnya di sektor batu bara.

Kabarnya perusahaan batu bara itu hanya sebatas izin di atas kertas saja?
Sebenarnya tidak ada masalah sama perusahaan ini, sama kayak perusahaan tambang lainnya, merosot, sama kita juga lagi tiarap. Sebenarnya kita ada solusi, solusinya batu bara kita olah jadi energi, PLTU, kita jadikan etanol, itu masih proses, delay, harusnya awal tahun, ini mau sampai akhir tahun belum juga, memang satu-satunya jalan harus diserap jadi energi, kita bangun mulut tambang di Melak, Kutai Kertanegara, Kaltim, baru mau akan berencana 2 x 15 MW.

Pada umumnya batu bara lagi tiarap, mau low kalori, high kalori, apalagi nilai kalori, ini memang untuk konsumsi energi

Rencana PLTU tahun ini bangunnya, tapi selesai pertengahan tahun 2016, tahun ini mulai persiapan, izin, FS, investasi US$ 60 juta, kita mulai mobilisasi, ditargetkan akhir 2016 operasi. Biasanya 1 MW itu US$ 1,5-2 juta.

Rights issue tadi untuk akuisisi yang perusahaan batu bara itu kan?
Iya. Pakai share swap Rp 4,6 triliun, yang diakuisisi kepemilikannya RITS 66,65%, seharga Rp 4,675 triliun.

Perubahan bisnis dari kemasan plastik ke tambang/energi?
Secara hukum sih, RUPS Juni 2014 kita sudah, tapi kan going concern yang penting, boleh saja mengaku perusahaan batu bara, tapi kinerjanya tidak ada ya belum, jadi dibuktikan dengan laporan keuangan satu tahun.

Kenapa pilih tambang (batu bara), kan lagi drop?
Kan kita bukan jual batu bara, value kita energi, Integrated Energy Company.

Nilai pasar setelah rights issue?
Harga pelaksanaan Rp 200, sempat naik Rp 400-an, kita juga bingung sempat naik, wong belum apa-apa, kok naik-naik saja.

Itu kan jual beli dari orang dalam juga?
Tidak, itu murni market ya mustinya, kalau ada dugaan itu, bursa tidak akan (meloloskan). Setahu kita, kita itu 3 kali disuspen, itu bulan Agustus seminggu kalau nggak salah, September sebulan, ketiga ini, alasannya selalu cooling down, terlalu volatile, itu saja

Ya mestinya kalau ada dugaan atau sangkaan, pasti kita ditindaklanjuti, setahu saya itu ada pelimpahan dugaan peraturan perdagangan saham dari bursa ke OJK, itu juga tidak ditindaklanjuti, memang tidak ada, tidak terbukti.

Soal repo saham?
Repo pasti ada tapi nanti itu bicara teknis, seperti saya bilang tadi, sumber pendanaan kita kan share financing, entah itu REPO, placement, floating, begitu.

Repo dijadikan modal kerja?
Iya, salah satu sumber pendanaan kita, jumlahnya berapa kita juga nggak tahu persis

Dari repo itu selain untuk pengembangan bisnis, ada untuk yang lain?
Harusnya ke perusahaan semua. Kita memang ada rencana ya, dari semula kita mau dapat pinjaman dari perbankan Rp 200 miliar, itu dipenuhi, mereka kan nggak nanya buat dipakai apa, sepanjang dipenuhi, sesuai jadwal, Rp 200 miliar itu total sampai 3 tahun 2014-2016

Soal goreng-menggoreng saham?
Kalau menurut saya kurang kerjaan, mumet. Nggaklah itu mekanisme pasar lah, itu nggak benar lah, ya kan transaksi kan jual-beli dan terbentuk harga, memang kita rencanakan?

Kalau ada yang nge-bid, harganya bagus ya beli, kalau kita nggak tertarik ya nggak, lagian kalau itu kan kita lihat punya siapa, kalau pun ada itu bukan kita karena itu melanggar

Prospek bisnis ke depan?
Kita berharap PLTU kita benar-benar tepat waktu. Pertengahan atau akhir tahun 2016, disalurin ke Melak, Kutai Barat, Kaltim, sekarang kan di sana masih pakai diesel

Total aset?
Sekitar Rp 4 triliun. Pendapatan dan laba kan belum. Yang lalu itu kan nggak carry over, jadi nol.

 

sumber :  notulen manajemen SIAP

(Visited 1,507 times, 2 visits today)

redaksi

www.beritasaham24.com