Rencana Ekspansi SRIL 2016 2017

Rumor Saham, Manajemen PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) berencana mengakuisisi beberapa perusahaan tekstil untuk memperkuat posisi sebagai perusahaan tekstil terintegrasi. Langkah ini akan dilakukan perusahaan di 2016.

Direktur Keuangan Sritex Allan M. Severino mengatakan pelaksanaan akuisisi ini masih dalam tahap penawaran dari perusahaan-perusahaan yang ingin diakuisisi. Ia berharap pada 2017 semua keputusan terkait aksi korporasi ini akan selesai.

Untuk akusisi di sisi hilir, perusahaan berencana untuk mengakuisisi merek-merek pakaian jadi luar negeri untuk dijual di Indonesia. Sampai sejauh ini, ia mengatakan kalau sudah ada dua perusahaan asal Asia Tenggara yang menawarkan merek-nya untuk diakusisi Sritex.

Lebih lanjut, ia menjelaskan kalau nanti produk-produk ritel yang dijual murni diproduksi oleh Sritex namun menggunakan merek-merek dagang yang diakuisisi. Langkah ini diambil perusahaan agar tak usah lagi membangun fasilitas pemasaran, seperti gerai-gerai penjualan dari awal lagi.

“Dan kami mengincar perusahaan fast retailing, di mana merek-mereknya bukan untuk konsumsi high class. Kenapa kami mengincar fast retailing, yang omzetnya besar dan kami pun ingin agar produksi-produksi kami terserap untuk merek ritel tersebut,” jelasnya.

Namun menurutnya, perusahaan masih mempertimbangkan opsi untuk membuat merek sendiri dan tak jadi mengakuisisi merek-merek dagang perusahaan luar negeri.

Sedangkan untuk akuisisi perusahaan hulu, Allan mengatakan sudah ada dua produsen fiber lokal yang menawarkan diri untuk diakuisisi. Kemungkinan besar, ujarnya, perusahaan akan mengakuisisi 100 persen kepemilikan kedua perusahaan tersebut.

PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) juga akan menandatangani dua kontrak baru penyediaan seragam bagi aparatur pemerintah serta militer Kamboja dan Hong Kong. Dengan kontrak tersebut, manajemen Sritex berharap bisa membukukan pertumbuhan penjualan minimal 7,93 persen pada tahun depan.

Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Severino mengatakan bahwa kedua kontrak itu merupakan bagian dari rencana perluasan pasar ekspor perusahaan ke beberapa negara baru yaitu Kamboja, Hong Kong, Peru, dan Spanyol. Ia mengatakan realisasi ekspor ke Kamboja dan Hong Kong merupakan pasar yang akan segera digarap dalam waktu dekat.

Untuk ekspor ke Kamboja, Allan mengatakan kalau Sritex akan membuat seragam bagi angkatan bersenjata, kepolisian, serta pegawai pemerintah daerah setempat. Ia mengatakan kalau kontrak ini akan dilakukan pada akhir tahun dengan estimasi nilai penjualan US$ 50 juta per tahun.

“Tapi estimasi nilai tersebut kalau jadi ekspor semua jenis seragam. Kami belum tahu nanti apakah ekspor semua atau hanya bagi tentara atau polisinya saja karena belum lakukan tanda tangan kontrak. Bahkan sistem kontraknya seperti apa kami belum tahu, akhir tahun ini rencananya kami teken kontrak,” jelasnya.

Dalam mengekspor seragam ke Kamboja, Sritex juga berencana untuk membuat sebuah perusahaan ritel pakaian di sana yang khusus menjual seragam-seragam tersebut ke instansi-instansi terkait. Sritex sendiri, dikatakannya, akan memiliki 60 persen kepemilikan perusahaan tersebut, sedangkan 20 persen lain dimiliki oleh Kementerian Dalam Negeri Kamboja, dan 20 persen sisanya dimiliki oleh perusahaan swasta Kamboja.

“Maunya sih kami jual dulu produknya ke perusahaan ini, nanti baru perusahaan ini yang jual ke pemerintahannya Kamboja. Ini juga sebagai upaya kami memperkuat hilir industri tekstil, utamanya di bidang ritel,” tambah Allan.

Sayangnya, ia enggan menyebut nilai investasi yang digelontorkan perusahaan untuk membangun perusahaan patungan ini. “Karena kami masih dalam masa confidential agreement, tapi yang bisa saya beri tahu adalah nota kesepahamannya sudah keluar. Tinggal mengurusi legalitasnya seperti izin Perseroan Terbatas (PT) dan lainnya,” tegasnya.

Di sisi lain, Sritex sedang menunggu realisasi ekspor ke Hong Kong yang juga dijadwalkan tahun depan. Allan mengatakan kalau nilai kontrak penjualan ke Hong Kong lebih kecil, yaitu berkisar US$ 5 hingga 10 juta per tahun.

“Karena kami hanya produksi bagi sebuah instansi pemerintahan di sana. Sistemnya langsung menjual ke pemerintahan sana, tidak pakai perusahaan ritel seperti di Kamboja,” tutur Allan.

Dengan dua rencana ekspor tersebut, manajemen Sritex berharap bisa meningkatkan penjualan dari angka proyeksi akhir 2015 sebesar US$ 630 juta hingga US$ 650 juta ke angka US$ 680 juta hingga US$ 715 juta di 2016.

Saat ini, Sritex telah memiliki pasar di 55 negara pada lima kawasan dengan rincian 11 negara dengan 24 pasar di Eropa, 11 negara dengan 24 pasar di Amerika, 19 negara dengan 28 pasar di Asia Pasifik, tujuh negara dengan delapan pasar di Timur Tengah, dan tujuh negara dengan 10 pasar di Afrika.

Penjualan Sritex hingga kuartal III mencapai Rp 475 miliar atau naik 13,36 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 419 miliar. Sebanyak Rp 81 miliar, atau 17 persen dari penjualan dihasilkan dari lini usaha garmen. Sedangkan penyumbang utama penjualan sebesar 44 persen dihasilkan dari lini pemintalan.

(Visited 1,176 times, 1 visits today)

redaksi

www.beritasaham24.com