Tedjo Budianto Liman dan KIJA

Perombakan besar terjadi pada jajaran pengurus PT Jababeka Tbk. Pemegang saham mengangkat Tedjo Budianto Liman sebagai direktur utama perseroan, menggantikan Setyono Djuandi Darmono yang kemudian menjabat komisaris utama.

Selain sebagai dirut, Budiyanto Liman merangkap sebagai direktur independen Jababeka. Keputusan itu ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2015 PT Kawasan Industri Jababeka Tbk yang berlangsung di President Lounge Menara Batavia, Jakarta pada Rabu (24/6). Perubahan komposisi direksi dan komisaris utama itu menunjukkan telah terjadi proses regenerasi yang baik dalam tubuh Jababeka. Ini sejalan dengan prinsip Perseroan untuk senantiasa menjaga keseimbangan antara kinerja usaha dengan praktek-praktek tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) yang bertujuan untuk memberikan nilah tambah bagi shareholder maupun stakeholders perusahaan.

Berikut pandangan Pribadinya

Saya bergabung dengan Jababeka tahun 1995, jadi sudah 20 tahun. Waktu bergabung dengan Jababeka, saya masuk di bagian corporate finance dan corporate secretary, kebetulan saat itu Jababeka mulai melantai di bursa.
Tapi, karena ada krisis, Jababeka sempat terpuruk juga. Ketika itu, saya turut membenahi keuangannya. Utang luar negeri sempat melonjak lebih dari enam kali lipat, gara-gara nilai tukar rupiah yang tadinya di kisaran Rp 2.000 per dollar Amerika Serikat (AS) melonjak sampai di atas Rp 16.000 per dollar AS. Padahal, saat itu revenue nol karena tidak ada pemasukan. Sehingga, akhirnya kami melakukan restrukturisasi perusahaan.
Restrukturisasi selesai, kemudian Jababeka berkembang lagi di tahun 2001. Di tahun itu pula, saya mulai masuk ke dewan direksi dan berlanjut sampai tahun 2006, saya ditunjuk menjadi wakil direktur utama.
Lalu, mulai Juni 2015, saya dipercaya untuk menjadi direktur utama. Amanat yang disematkan pemegang saham dan pendiri Jababeka adalah: melanjutkan visi dan misi yang selama ini sudah dicanangkan.
Visi tersebut: menciptakan kota modern yang mandiri di setiap provinsi di Indonesia dan menyediakan lapangan pekerjaan untuk kehidupan yang lebih baik.
Melalui visi inilah, Jababeka menjadi satu-satunya perusahaan pengembang kota mandiri yang berbeda dari yang lain. Maksudnya berbeda ialah kami yang paling lengkap. Visi ini memang dicanangkan sehingga bisa memberi manfaat besar, baik bagi perusahaan, masyarakat, dan tentu ke pemerintah daerah setempat.
Contoh, Cikarang waktu kami bangun 26 tahun yang lalu, jumlah penduduknya masih 150.000 jiwa dan kondisi daerahnya dulu sangat gersang. Dulu tidak ada yang mau menggarap Cikarang. Kemudian kami datang dan mengembangkan kawasan tersebut.
Kini jumlah penduduknya mencapai 1 juta jiwa. Itulah yang menjadi dasar pertimbangan kami. Sekarang penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 200 juta jiwa.
Jika membangun 100 kota mandiri seperti Cikarang, berarti kami bisa menciptakan 100 juta lapangan kerja baru dan itu juga menjadi solusi bagi kota-kota besar. Soalnya, penduduk di daerah tersebut tidak perlu jauh-jauh merantau ke kota besar untuk mendapatkan pekerjaan.
Pengembangan daerah-daerah di luar Jakarta menjadi suatu hal yang mutlak dibutuhkan dan saya sekarang mengawal Jababeka untuk mewujudkan visi tersebut.
Perbedaan utama antara Jababeka dengan pengembang lain adalah, kami mengembangkan kota mandiri tidak lewat pengembangan permukiman, melainkan melalui pengembangan kawasan industri.
Dengan diawali pengembangan kawasan industri, maka infrastruktur pendukung perlahan-lahan akan mengikuti. Ini sesuai dengan visi kami yang mengembangkan kota mandiri dan menciptakan lapangan pekerjaan. Jadi, bukan mengeruk keuntungan semata, juga menciptakan wilayah yang membawa perubahan lebih baik di suatu daerah.
Kami melihat potensi suatu daerah sehingga pengembangannya tidak akan berubah. Jika daya tarik suatu daerah adalah wisata seperti Tanjung Lesung, maka kami mengembangkan kawasan berbasis wisata, bukan manufaktur.
Mungkin manufaktur bisa tapi tentu industri yang mampu menunjang potensi wisata. Kami tidak mungkin memaksakan kehendak dan melawan alam, mahal biayanya dan susahnya luar biasa.
Misalnya, kawasan industri yang sedang kami kembangkan adalah kawasan industri tekstil di Kendal. Dari segi lokasi, kabupaten di Jawa Tengah ini bagus, jaraknya sekitar 21 kilometer (km) arah Barat Semarang, 20 km dari Bandara Ahmad Yani, dan 25 km ke Pelabuhan Tanjung Emas. Potret kawasannya sedikit banyak mirip dengan Cikarang saat kami mulai membangun 26 tahun silam.
Ide mengenai pengembangan kawasan industri tekstil ini muncul lantaran kami menilai potensi industri tekstil yang pernah jaya sebenarnya tidak betul-betul padam.
Memang, jika ditilik secara umum industri ini makin lama makin terpuruk, karena semuanya dikaitkan dengan buruh. Kalau perusahaan tekstil kita harus bersaing untuk urusan buruh, tentu saja susah. Sebab, negara lain yang baru mulai industri tekstil, seperti Vietnam atau Myanmar, upah buruhnya murah. Sayang bila industri yang sudah dewasa dan punya pengalaman puluhan tahun ini dibiarkan saja.
Harapannya, dengan semakin terkonsentrasi di suatu wilayah yang terdiri dari pabrik, pusat penelitian, dan pengembangan fashion, industri tekstil kita bisa kembali berjaya. Kalau boleh dibilang, nantinya Kendal bakal menjadi Silicon Valley industri tekstil Indonesia. Untuk ini, kami punya kawasan yang sudah siap, ya, di Kendal.

(Visited 427 times, 1 visits today)

redaksi

www.beritasaham24.com